Rasa yang Tertinggal di Balik Buku yang Kau Pesan

Pinterest

/1/
Minggu pagi bahagia. Saking bahagianya aku mengunyah nasi goreng sosisku sambil tersenyum-senyum sendiri. Kemarin siang aku baru saja memperoleh honor menulis yang terbilang lumayan besar jumlahnya. Dan malamnya, aku sudah menganggarkan sepertiganya untuk memenuhi hasratku; membeli buku. Semalaman di tempat tidur, aku memilih buku-buku bagus di sebuah online bookstore di Instagram yang berdomisili di daerah Depok Sleman, Jogja. Nama akunnya “Rasa Sastra”, keren juga. Kelihatannya terpercaya dengan jumlah followers melebihi 12K dan testimoni-testimoni customer yang ditampilkan di highlight.

Aku pun memilih lima buku sekaligus: Aku Bersaksi Tiada Perempuan Selain Engkau (Nizar Qabbani), Negeri Senja (Seno Gumira Ajidarma), Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan), Ikan-ikan dari Laut Merah (Danarto), dan The Sun and Her Flowers (Rupi Kaur). Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari, sementara euphoria yang riuh meniup terompet di dalam hatiku belum berhenti sama sekali. Mataku dibuatnya tidak mengantuk. Jadi tanpa menghiraukan itu semua aku pun nekat menghubungi nomor WhatsApp lapak buku untuk melakukan order. Saat itu juga. Orang punya duit, kok, mau ngapain aja mah bebas.

Aku beringsut-ingsut membetulkan selimut, sambil menunggu kemungkinan pesanku dibalas.

“Kalau laki-laki kadang masih melek di jam-jam segini,” gumamku.

Dan… Ajiiib !!! Lima menit kemudian pesanku dibalas:

Pagi ini aku sudah memenuhi janjiku untuk mentransfer uang, kemudian mengirim bukti transfernya. Eh… ??? Seriusan namanya Habib ??

Usai sarapan aku bergegas menuju auditorium Museum Benteng Vredeburg. Aku terdaftar menempati kursi audiens sebuah acara dialog budaya, yang selain merupakan sebuah proyek Dinas Kebudayaan, juga memang edukasi bagi masyarakat yang berminat. Dialog berlangsung selama 2 jam, mulai setengah sepuluh pagi sampai setengah dua belas siang. Topik yang dibahas adalah Filosofi Tumbuh-Tumbahan dalam Kehidupan Orang Jawa. Sebetulnya kajian ini menarik sekali untukku. Tapi selama acara berlangsung, pikiranku justru terbang mengembara menemui buku-buku yang sudah kuorder. Bahkan point penting dialog yang ingin kucatat pun akhirnya tinggal sebuah wacana.

“Bisa kali, ya, kalo ga usah dikirim pake wahana…” pikirku.

Maksudnya, ojek online bisa mengatasi pengiriman dari Sleman ke Museum Benteng Vredeburg hari ini juga. Kalau dikirim via Wahana mungkin lusa baru sampai. Ojek online ga mau nambah fitur GoBook, nih ?

Setelah negosiasi dan sempat salah terka, akhirnya si pemilik online bookstore yang bernama Habib ini setuju untuk mengirim bukuku ke Museum Benteng Vredeburg. Sudah terpikir olehku, aku bisa keluar ruangan sebentar buat nyamperin abang Grab. Atau mungkin si abang Grab sampai setelah dialog selesai.

“Waah, happy banget kalo beli online nyampenya sehari aja. Bisa nagih..”

Baru juga bahagia, aku mendapat pesan lagi dari online bookstore itu:

Walau sedikit kecewa lantaran gagal fast delivery dan harus mengeluarkan ongkir lebih besar, aku berusaha untuk menyabarkan diriku. Ya. Kalau dipikir-pikir kekecewaan ini memang berakar dari sifat ketidak sabaranku.

Usai dialog budaya yang kajiannya hanya kupahami setengahnya itu, aku melajukan sepeda motorku ke kafe yang terletak persis di sebelah timur RSUD Panembahan Senopati. Aku sudah janjian dengan Emila untuk makan siang bersama pukul setengah satu siang di sana, sekaligus bisa sambil menunggu si abang Grab yang mengantar bukuku. Emila ini teman semasa SMA yang hingga sekarang sering curhat unlimited lewat pesan WhatsApp.

Kami berdua memesan 2 porsi steak ayam, 2 porsi salad buah ukuran mini, 1 porsi samosa, 1 porsi siomay, dan 2 gelas lemon tea tanpa gula. Sambil melahap makanan, kami terus mengobrol panjang lebar. Kadang kami tertawa lepas yang membuat seisi pengunjung kafe memusatkan perhatiannya pada kami.

Sebentar-sebentar aku juga mengecek ponsel apakah ada pesan konfirmasi dari Grab yang masuk.

Emila tidak tahu kalau aku sedang menunggu paket. Dan aku juga tidak berniat memberitahunya. Jangankan orang lain, orang tuaku saja tidak pernah kuberitahu jika aku belanja buku dalam jumlah yang besar. Mereka memang tidak akan marah jika tahu anaknya terlalu hedonis, terutama untuk membeli buku, tapi aku hanya merasa kurang nyaman saja jika banyak orang yang tahu kebiasaanku.

Kira-kira satu jam lagi pesanan akan sampai.

Menunggu sendirian itu membosankan. Karena setelah makan siang selesai, Emila harus pergi ke kampus. Hari Minggu begini masa ngampus… Saat ia berpamitan, aku berpura-pura ingin ke toilet— hanya  untuk membiarkannya pergi duluan. Lalu aku kembali lagi ke meja saat ia sudah benar-benar melarikan sepeda motornya dari emperan kafe.

Jam tanganku menunjukkan pukul 14:23. Hari semakin sore meskipun cuaca panas diluar masih seperti panas tengah hari. Hampir satu jam aku menunggu dan menanggung perasaan tidak enak dengan pelayan kafe, juga dengan pengunjung kafe lainnya. Piring-piring di mejaku sudah disingkirkan, hanya tertinggal lemon tea tanpa gula yang aku pesan lagi. Tindakanku ini pasti dikiranya kurang kerjaan. Bagaimana lagi, aku melakukan ini demi buku.

“Tadi anak ini ketawa-tawa sama temennya, sekarang sendirian. Lah ?! Aneh banget,” Entah pelayan, entah pengunjung, pasti ada yang berpikir seperti ini.

Setengah jam kemudian ponselku berdering. Nomor tanpa nama kontak menelponku. Nah  !!! Tidak salah lagi ini pasti si abang Grab.

“Halo, ini dengan Mbak Habiba ?”

“Iya, benar.”

“Saya sudah di dekat gate timur rumah sakit, Mbak.”

“Oke, siap. Saya segera kesitu.”

Aku beranjak menuju kasir untuk membayar makanan, kemudian setengah berlari menghampiri abang Grab yang sedang parkir di bawah pohon palem samping gate rumah sakit.

“Mbak Habiba, ya ?”

“Iya, Mas, saya Habiba.”

“Ini paketannya, Mbak. Dari Mas Habib, ya…”

“Oh, iya, betul. Jadi berapa ongkirnya, Mas ?”

“Ongkirnya jadi…. RP 45.000, Mbak ?”

“Oke, ini uangnya,” Aku menyodorkan uang Rp 50.000 padanya.

“Saya baru kali ini, Mbak, dapat customer yang namanya mirip. He he he..” celetuknya sambil mencari uang kembalian di tas pinggangnya.

“Oh, iya, yaa ?” tanggapku sambil terpaksa tersenyum. Aku tidak menyangka kalau kejadian di luar kesengajaan ini akan mendapat komentar dari orang lain. Kalau dipikir-pikir memang lucu juga, sih.

Setelah transaksi selesai, aku pun memutuskan untuk langsung pulang. Aku lega keinginanku untuk membeli buku melalui online bookstore yang dalam satu hari saja bisa langsung sampai akhirnya terwujud. Cepat sekali pelayanannya. Mungkin lain kali, aku bisa membeli buku dari online bookstore  itu lagi.

Malam harinya, ketika aku sedang mulai membaca buku The Sun and Her Flowers di sofa ruang tengah, konsentrasiku membuyar. Entah bagaimana ceritanya komentar driver Grab tadi masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku meraih ponselku yang tergeletak di meja depanku, kemudian membuka chat WhatsApp-ku dengan pemilik online bookstore yang bernama Habib itu sekali lagi. Tiba-tiba aku tersenyum sendiri.

Namanya Habib Zulkarnain. Alamatnya di Depok, Sleman. Entah seperti apa wajahnya…

 

/2/
Biru langit pagi. Mingu pagi ceria. Sarapan pagi nasi kucing, tak mengapa, aku tetap bahagia. Tadi malam kira-kira pukul satu pagi, aku bangun untuk salat tahajud. Jujur aku jarang sekali mengerjakan salat ini. Hanya saja kalau sedang “ada maunya”, dan mentok tidak mendapat sedikit pun pencerahan, aku biasa malu-malu merayu Tuhan. Salat tahajud bisa jadi jalan keluar. Dan kali ini, masya Allah, Maha Baik Tuhan yang sayang pada hambaNya. Usai mengakhiri doaku yang panjang lebar kemudian mengusap tangan ke muka, sebuah notifikasi pesan WhatsApp masuk ke ponselku.

Begitu membacanya, aku langsung bersujud syukur. Baru saja doaku selesai dan tanpa menunggu hitungan detik, Tuhan langsung mengabulkan doaku dengan menurunkan bidadari penyelamat yang membeli banyak buku di online bookstore-ku. Lapak online-ku yang kunamai “Rasa Sastra” ini bisa dibilang punya daya saing dan menjanjikan. Hanya saha akhir-akhir ini sepi pembeli, padahal aku sedang butuh uang untuk menunjang biaya hidup sehari-hari. Uang kiriman orang tua sudah habis terpakai untuk bayar uang semesteran dan sewa kontrakan. Mau pinjam uang ke teman tapi tidak berani. Sekarang aku lega. 

Jadi, bidadari penyelamat yang Tuhan kirimkan untukku di waktu dini hari ini bernama Habiba. Kenapa bisa mirip gini sama namaku, ya ? Entah seperti apa wajah bidadari ini. Ia tidak menampilkan foto profil WhatsApp-nya. Kalau ditebak dari namanya, sih, aku yakin ia berwajah bidadari. Bidadari dunia.

Usai sarapan, aku menerima notifikasi dari si bidadari. Ia mengirimkan bukti transfer uang sejumlah Rp 395.000 ke rekeningku. Aku bersyukur lagi.

“Bib ! Habib !”

Terdengar suara ketukan pintu dibarengi dengan suara orang memanggilku dari luar. Dari suaranya yang aku hafal, itu adalah Afif, teman sekelas yang hobinya ngutang ke anak-anak kampus. Aku beringsut dari meja makan dan berjalan menuju pintu depan.

“Eh, elu, Fif.. Tumben pagi-pagi nyamperin gue ?” kataku basa-basi.

“Iya, nih. Ini aku mau bayar utang. Sorry, ya, Bib, aku baru bisa balikin sekarang..” kata Afif sambil menyodorkan uang Rp 500.000.

“Oh.. he he he.. Udaah, santai aja, bro ! Makasih, lho, ya ! Pagi-pagi udah anter rejeki.” Uangmu sebenarnya ketlingsut dimana aja, sih, Fif ? Ha ha ha…

“Aku yang makasih sama kamu, Bib. Mmm.. ya udah, aku langsung cabut, ya..”

Loh ?! Ga mau masuk dulu, Fif ? Kita ngopi-ngopi bareng dulu.” Ups. Keceplosan. Padahal aku tidak punya segelintir bubuk kopi pun di kontrakan.

“Lain kali aja, lah, Bib.”

Afif pun pergi.

Alhamdulillah. Aku tidak menyangka kalau satu pintu rezeki terbuka, maka pintu rezeki lain pun akan ikut terbuka. Afif pinjam uang Rp 500.000 sudah lima bulan yang lalu, dan aku tidak pernah menagihnya karena aku tahu dia licin seperti belut. Dan pagi ini tiba-tiba ia datang mengembalikan uang.

Setelah urusan makan dan bersih-bersih kontrakan kelar, aku pun menyiapkan buku-buku yang dipesan si bidadari. Kubungkus dengan kertas coklat dan kububuhi nama beserta alamatnya. Nanti siang aku akan menelpon kurir Wahana untuk mengambil paket buku ini. Sekarang lebih baik aku pergi ke supermarket dulu untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Jam tanganku menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku tidak menyangka kalau jam-jam segini supermarket disesaki kaum hawa yang masing-masing mendorong troli. Ada yang membawa anak kecil— yang dimasukkannya ke dalam troli lantaran tidak ingin anaknya terhimpit wanita-wanita yang berbeda ukurannya, ada yang membawa suaminya— yang membantu mendorong troli dan pastinya yang membayari belanjaan sementara si istri enak-enakan comot barang apa saja yang dibutuhkan, dan ada yang masih berdiri mematung memandangi suasana riuh dalam supermarket— yaitu aku.

Aku melangkah gamang dengan tas belanja yang masih kosong. Untuk menuju rak yang menyediakan perlengkapan mandi, aku harus menerobos ibu-ibu yang sedang berdiri, berjongkok, dan membungkuk memilih barang keperluannya. Sambil berjalan miring dan tas keranjang di atas kepala, aku mengucapkan permisi berulang kali. Aku melakukan ini berkali-kali sampai semua barang kebutuhanku terambil. Aku membeli perlengkapan MCK, parfum, deodoran, 10 mie instan, 2 kg telur, 6 macam makanan ringan, 2 kardus susu, 1 kardus kopi Good Day, 2 kg gula, 1 bungkus roti tawar, dan 1 kg jeruk.

Aku menuju antrean membayar yang panjangnya hampir 4 meter. Sebentar kemudian ponselku berdering tanda notifikasi pesan WhatsApp. Si bidadari itu ingin bukunya diantar oleh ojek online saja supaya bisa sampai dalam waktu satu hari. Ia tidak bisa menunggu lama. Saat aku melihat alamatnya… Wah, ongkirnya bisa mahal sekali kalau dari Depok Sleman ke Pantai Depok.

Ternyata aku salah. Ia memintaku untuk mengirim bukunya ke Museum Benteng Vredeburg.

“Mas, Mas ganteng, ibu duluan, ya. Anak ibu keburu rewel, nih.”

Seorang wanita berusia 30-an menepuk pundakku lalu menyerobot antreanku begitu saja. Anaknya memang sedang rewel. Aku tidak berkutik apa pun selain harus berbesar hati. Penggusuran ini dan transaksi yang berjalan lama membuatku berpikir untuk menghubungi bidadari.

Mungkin ia merasa setengah kecewa walaupun tak menolak untuk membayar ongkir lebih mahal. Ah, sudah jadi bidadari, bibliomania, tajir mlintir, pula. Mantul, mantap betul.

Satu setengah jam kemudian, urusan transaksi selesai dan aku pun pulang dengan terburu-buru. Sesampainya di kontrakan, aku langsung memanggil driver Grab dan beberapa menit kemudian ia datang. Berbarengan dengan kedatangannya itu, bidadari menanyakan lagi kapan bukunya akan dikirim.

“Mas, dianter ke alamat, ya. Nanti yang bayar Mbak Habiba ini,” kataku sambil menyerahkan buku-buku yang kumasukkan ke plastik besar.

“Siap, Mas.”

Lalu aku membalas pesan bidadari:

Aku lega. Semoga si bidadari tidak menunggu bukunya terlalu lama. Biasanya driver ojek online bisa mengemudi sekencang-kencangnya sampai tujuan. Anehnya, hingga pukul delapan malam si bidadari tidak kunjung memberi kabar apakah bukunya sudah ia terima atau belum.

Setengah sembilan malam aku memasak mie instan dan merebus telur, ditemani lagu Señorita. Aku menirukan lagu itu sambil berjoget-joget ria. Biasa, gue kan lagi ada duit. Baru memasuki intro, bunyi notifikasi pesan WhatsApp datang menyela laguku.

Aku tersenyum lebar. Walaupun tanpa emoji, nada pesannya terdengar hangat sekali. Ku baca sekali lagi teks percakapanku dengannya dari awal. Dan sekali lagi, sampai mataku berhenti pada bagian pesan yang membuat dadaku berdebar-debar, yaitu judul-judul buku yang ia pesan. Huruf awal judul-judul buku itu secara vertikal membentuk susunan kata yang dibaca ‘cinta’. Ya. Ini hanya kebetulan saja, memang. Dan sebaiknya aku tidak berpikir kejauhan.

Tapi, sejauh bisnisku berjalan, tak pernah ada pembeli sespesial ini sebelumnya. Terima kasih yang tak terkira untuk  bidadari. Hari ini aku sangat bahagia berkat dirinya. Habiba Razzany. Rumahnya di daerah Pantai Depok, atau Depok lain di Kabupaten Bantul sana. Entah sebidadari apa wajahnya itu, yang telah memantik rasa penasaranku.

Aku telah menyimpan nomornya dan sesuai dugaanku ia pun telah menyimpan nomorku. Kuharap ia menyempatkan melihat story WhatsApp-ku dan  membeli buku dariku lagi. 

 

/3/
Sumpaaaa…! Apes bener hari Minggu ini. Masa ada 3 orang yang order, tapi semuanya cancel pas aku udah otw ?” Aku  meloncat ke kursi panjang warteg sambil setengah membanting kunci sepeda motor ke meja.

Lah kok bisa, sih, Git ?”

Emang dasarnya lagi apes ini, Mas.”

“Ya udah, sini, ngeteh dulu aja. Biar agak fresh pikiranmu.”

Mas Cahyo memesankan aku segelas teh kepada Bu Ronggo si pemilik warteg.

Nasgitel satu lagi, ya, Bu !”

“Ya..”

Nasgitel atau panas legi kentel (panas manis kental) adalah menu teh favorite para driver Grab yang biasa mangkal di warteg ini. Tehnya memang panas, manis, dan kental. Sejak pertama kali mengawali pekerjaan sebagai driver Grab, justru dengan teh inilah aku pertama kali berkenalan. Hingga disaat-saat menyebalkan seperti ini, ia juga yang mencoba mengatasi, paling tidak dengan berusaha menenangkan pikiranku.

Monggo tehnya, Nak Sigit, langsung diminum. Habis ini dijamin lancar rejekinya..” kata Bu Ronggo dengan aksen Jawanya.

Aku mengucapkan terima kasih dan memaksa tersenyum. Kata-kata Bu Ronggo barusan yang acapkali kudengar tiap kali ia menyajikan teh, malah membuatku berpikir.  Apakah karena ini yang membuat nasgitel menjadi favorit para driver Grab ? Apakah teh nasgitel seharga Rp 3.000 ini memang punya filosofi dalam yang tak kuketahui ? Ah, bisa jadi jampi-jampi Bu Ronggo yang— tidak juga terdengar seperti jampi-jampi itu, secara tidak langsung memengaruhi semangat dan peruntungan para driver. Wah, pantas saja. Banyak driver yang menyeruput nasgitel terlebih dahulu sebelum narik. Dan kalau dihubungkan dengan kesialanku hari ini, bisa ditemukan penyebabnya. Ya.  Biasanya aku juga mampir ke sini untuk kenduri teh nasgitel bersama yang lain, sebelum satu per satu dari kami pergi memenuhi panggilan.

Lagi nyari jawabannya, ya ?” seloroh Mas Cahyo sambil menaikkan sebelah kakinya ke kursi panjang.

Aku terjingkat dari renunganku. Bagaimana mungkin lelaki gendut berusia 40-an ini bisa menelisik apa yang sedang berkecamuk di pikiranku. Apa ia pernah mengalami hal yang sama sebelumnya ?

“Jangan terlalu dipikirkan, Git,” katanya lagi. “Kamu kan masih muda. Belum punya tanggungan banyak. Kerja dibawa santai aja,” imbuhnya.

“Yang penting jangan lupa mampir kesini, lho. Wajib minum teh nasgitel-ku.” Bu Ronggo nimbrung.

Apa yang dikatakan wanita paruh baya yang mengenakan busana layaknya penjual jamu ini makin terdengar mistis. Serius.

Aku manggut-manggut saja dan mengajak Mas Cahyo makan siang, hanya untuk mengalihkan pembicaraan. Lagi pula, jam di ponselku sudah menunjukkan pukul satu seperempat siang. Mas Cahyo setuju. Aku pesan gado-gado tanpa kubis, sementara Mas Cahyo pesan nasi rames. Sambil menunggu Bu Ronggo menyiapkan makanan, aku kembali menyeruput teh nasgitel-ku. Rasanya, kemelut hatiku perlahan-lahan sudah berkurang.

Tujuh menit kemudian pesanan kami datang. Kami makan dengan lahapnya dan sesekali berhenti untuk menyeruput teh nasgitel yang sudah menghangat. Dalam waktu sepuluh menit makanan kami sudah habis. Mas Cahyo bersendawa keras-keras.

Aku melihat ponselku untuk mengecek adanya pesanan yang masuk, dan— aku yakin ini memang rezekiku, ada seseorang di dekat sini yang sedang melakukan order. Aku berhasil menyabetnya. Orang ini ingin mengirim barang. Hanya saja, wah, jarak pengirimannya kelewat jauh. Tapi tanpa pikir panjang, aku menyutujui saja.

“Wah, alhamdulillah, Mas. Ada yang order, ini.” kataku berseri-seri. “Cuma, jauh banget ini lokasinya.”

“Lha.. Bener kan apa kata kita tadi ?” kata Mas Cahyo sambil melirik Bu Ronggo. “Kalau jauh itu nggak apa-apa. Tantangan kerja kita kan memang seperti itu.”

Bu Ronggo menambahkan, “Sedikit atau banyak, dekat atau jauh, ya dijalani dan disyukuri saja.”

Aku semakin mantap. Aku buru-buru membayar makanan dan minumanku. Lalu dengan keadaan sadar betul, aku menghabiskan teh nasgitelku yang hampir dingin. Aku langsung tancap gas menuju alamat pemesan yang tak jauh dari sini.

Kira-kira anak kuliahan yang menggunakan jasaku kali ini. Namanya Habib. Ia berparas tampan, pipinya berjambang tipis, dan berkaca mata— ah, sebetulnya aku tidak pernah menilai customer seperti ini. Ia menyerahkan barang yang dikemasnya dengan plastik kresek. Isinya buku yang ia tujukan ke seorang perempuan bernama Habiba, berlokasi di gate timur RSUD Panembahan Senopati Bantul. 

“Mas, dianter ke alamat, ya. Nanti yang bayar Mbak Habiba ini,” katanya.

“Siap, Mas.”

Aku tancap gas lagi. Melewati jalan sesuai dengan arah yang ditunjukkan oleh Google Maps, menerobos kendaraan lain yang melaju dengan kecepatan santai. Berulang kali aku membunyikan klakson dan mengatur lampu sein, meliuk-liuk mencari celah, kemudian melaju sekencang-kencangnya.

Tiba di kawasan Jalan Bantul yang sedang diperlebar sisi kirinya. Di sini aku harus mengalami kemacetan sepanjang 15 meter lebih di belakang traffic light. Padahal, jarak menuju lokasi hanya tinggal 2 km lagi. Sebisa mungkin aku berusaha merayap perlahan di celah kecil pinggir mobil-mobil.

“Hmm… Yang tadi cancel semua, yang ini malah suruh macet-macetan,” aku tidak tahan untuk tidak menggerutu.

Kira-kira setengah jam kemudian aku lolos dari kemacetan yang mengerikan tadi. Tapi aku harus terhenti lagi karena buku-buku di dalam plastik berjatuhan. Entah mengapa ini terjadi. Aku menghentikan sepeda motorku, kemudian cepat-cepat memunguti buku-buku yang tercecer di tepi jalan— untunglah tidak terjatuh di tengah jalan dan terlindas ban kendaraan. Kuhitung jumlah buku yang tercecer. Semuanya ada lima, dan… CINTA ? Apa ??! Aku melihat kata itu tersusun dari huruf awal masing-masing judul buku, saat aku sedikit merentangkan buku-buku dan huruf-huruf itu saling bersinggungan. Mungkin ini hanya kebetulan, atau ah, ayolah, aku harus segera sampai di lokasi.

vol1.brooklyn.com

Aku mengganti wadah plastik yang entah mengapa bisa koyak, dengan plastik yang kebetulan ada di jok motorku. Aku melaju lagi. Sesampainya di gate timur rumah sakit, aku menelepon Mbak Habiba.

“Halo, ini dengan Mbak Habiba ?”

“Iya, benar.”

“Saya sudah di dekat gate timur rumah sakit, Mbak.”

“Oke, siap. Saya segera kesitu.”

Seorang gadis yang keluar dari kafe yang terletak persis di timur rumah sakit setengah berlari ke arahku. Ia mengenakan outfit berwarna pastel, berhijab, dan bersepatu putih. Wajahnya cantik, berlesung pipi, dan kelihatan sedikit lelah.

“Mbak Habiba, ya ?”

“Iya, Mas, saya Habiba.”

“Ini paketannya, Mbak. Dari Mas Habib, ya…”

“Oh, iya, betul. Jadi berapa ongkirnya, Mas ?”

Aku mengecek ongkir sekali lagi. “Ongkirnya jadi…. RP 45.000, Mbak ?”

“Oke, ini uangnya,” Mbak Habiba menyodorkan uang Rp 50.000.

“Saya baru kali ini, Mbak, dapat customer yang namanya mirip. He he he..” celetukku sambil mengambil uang kembalian dari tas pinggangku. Ternyata aku tidak tahan untuk memberi komentar atas apa yang terjadi kali ini.

“Oh, iya, yaa ?”

Aku memberikan uang kembalian. Mbak Habiba mengucapkan terima kasih, kemudian ia pergi menuju kafe lagi.

Aku juga lekas beranjak pergi. Di perjalanan, aku sempat memikirkan apa yang terjadi hari ini. Pertama, mendapat tiga kesialan. Kedua, teh nasgitel yang menjadi teka-teki. Ketiga, customer bernama Habib yang memintaku mengirimkan lima buku— yang huruf awal judul setiap buku itu membentuk kata ‘cinta’, untuk Habiba yang jauh sekali lokasinya. Aku benar-benar tidak mengerti dan tak pernah membayangkan bahwa aku akan mengalami hal semacam ini.

Aku tiba-tiba tersenyum sendiri penuh ketidakmengertian. Sejenak aku tidak bisa mendengarkan bising kendaraan yang lalu lalang di Minggu siang menuju sore hari ini. Sampai akhirnya ponselku berbunyi. Aku menyetujui satu orderan yang masuk, kemudian lekas-lekas menjemput rezekiku itu, meninggalkan potongan-potongan kejadian hari ini yang berputar-putar di kepalaku.

 

/4/
Terkadang segalanya dimulai dari ketidaksengajaan.

Terkadang ada rasa yang tertinggal di sebuah pertemuan, yang pada pertemuan itu antara satu insan dengan satu insan lainnya hanya dapat membayangkan seperti apa paras wajah yang ditemuinya.

Terkadang justru orang lain yang dapat melihat paras keduanya. Tapi apa daya, ia sadar tak semestinya ada dalam cerita.

Terkadang segalanya berakhir dengan senyuman, atau kejadian baru yang masih dalam rencana Tuhan.

Terkadang, begitulah, cerita hidup ini berjalan.

—Selesai—

 

*Sebuah cerita oleh Rahma Frida. Ditulis di Yogyakarta, 25-27 November 2019.

44 thoughts on “Rasa yang Tertinggal di Balik Buku yang Kau Pesan

Add yours

      1. Oh honor menulis itu. Itu saya tergabung dalam tim sistem informasi desa kak. Saya sbg citizen journalist, meliput dan menulis acara yg ada di desa untuk dijadikan berita/konten web desa. Ada honornya 😁😅

        Like

      2. Hehe tapi tidak terlalu formal seperti di koran-koran, kak. Bisa berbentuk feature, tips, artikel, dll. Berita diupload ke alamat web desa kami, yg menguploadnya bagian pelayanan di kantor kelurahan. Desa di sini maksudnya tingkat kelurahan, bukan dusun/kampung.

        Like

      3. Aku dah main ke web itu. Seperti kebanyakan web pemda, halaman web tidak mobile friendly. Jika dibuka dari browser di handphone maka kita mesti zoom agar bisa membacanya. Hanya nyaman dibaca jika membacanya di PC atau laptop.

        Lalu aku search nama ‘Frida’ dan muncul satu artikel berjudul Merti Dusun untuk Depok Guyup Rukun. Isinya tentang kegiafan di sana. Ringkas dan jelas.

        Keren!

        Like

      4. Ya, betul kak. Karena web itu web resmi yang tiap desa memiliki dan diharapkan mengelolanya. Oh ya, kadang saya menuliskan ‘Oleh: Rahma Frida’ di bawah judul, tapi kemudian saya tidak menuliskannya lagi. Biasa saya beri kode [rh] di akhir teks, kadang juga tanpa itu. Hehe..

        Terima kasih sudah berkunjung 😁

        Like

      5. Mesti tetap ditulis sih, saranku. Rahma Frida adalah nama penamu kan? Dan itu bukan nama asli (lengkap)

        Kalau ditulis Rh nanti dikira rumus kimia atau Riki Harun.

        Just be proud of yourself.

        Nah, gmn ceritanya kok bisa jadi nulis di sana? Ada kenalan? Atau mungkin pacarmu itu anak pak lurah?

        😀

        Like

      6. Hehehe.. saya pinginnya pun begitu, kak. Tapi sekarang ada ketetapan baru untuk mencantumkan nama desa di awal teks, begini ‘Gilangharjo- …(mulai teks berita)’. Dan pencantuman [rh] itu untuk memudahkan penghitungan berita yg masuk saja, sih kak.. hehehe..

        Terima kasih 🙂

        Jadi dulu saya mengikuti workshop jurnalistik yg diadain pemdes, kemudian saya tertarik untuk menulis dan mengirimkan berita ke pemdes. Terus tau2 digabungin gitu aja dan masuk tim. 😅😅 Kalo kenalan, ya memang krn udah ada kenalan juga.. saya juga sering sih ikut kegiatan2 di desa.. hehe

        Like

      7. Kalau saya malah pernah dapat tawaran seperti itu sekitar 2 bulan yg lalu. Kerjaannya menulis untuk konten untuk website LifePal. Tapi saya tidak bersedia karena saya kurang pengetahuan ttg tema konten yg diminta.

        Coba nulis untuk koran, kak.. 😀

        Like

    1. Hahahaha… ah, akhirnya saya menemukan kata ‘baper’ itu, rasanya tepat. saya lg nyari-nyari apa kata yg tepat untuk menyebut saya yg terdorong buat nulis beginian hihihi… 😅

      Like

  1. Kak, sukaaa bangaaaatt sama ceritanya, bikin ketagihan, bikin auto scroll ke atas buat lihat-lihat chat-an nya, dan sukses bikin senyum-senyum sendiri saat membaca sambil membayangkannya xP. Kereenn, maa syaa Allaah 💛 izin follow dan baca-baca yang lain, ya, Kak :). Salam kenal Kak Rahma 🌻

    Liked by 1 person

    1. Aww 😻😻 Thanks ya sudah membaca dan suka, hihihi.. padahal saya rasa masih banyak kekurangannya karena udah lama banget ga nulis cerita.. Thanks juga ya sudah berkunjung dan follow. Salam ken juga Kak Octa Raisa 🌹

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: