Ide Ini Sedikit Nakal

Malam itu aku mengerjakan tugas kuliah di kursi ruang tengah. Sementara orang tua dan adik-adik duduk lesehan tak jauh dariku sambil menonton televisi. Sesekali mereka bercanda tawa. Aku sama sekali tidak terusik karena terlalu fokus pada pengerjaan tugas yang memenuhi layar laptopku. Sebentar kemudian pukul 10 malam, mereka mematikan televisi lalu beranjak pergi ke kamar masing-masing. Sejak tubuh mereka ditelan pintu, sudah tak terdengar lagi mereka bercakap-cakap. Suasana pun menjadi sunyi sejenak, hanya riuh rendah dengan suara ketik.

Aku berinisiatif untuk menyalakan televisi supaya suasana nggak sepi-sepi amat. Pikirku, sesekali tak apalah mengalihfungsikan televisi. Kali itu bukan untuk ditonton, melainkan untuk menemaniku dengan celoteh sinetronnya yang entah tentang apa. Aku bisa lanjut mengerjakan tugas sampai tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih. Pas sekali tugasku sedikit lagi selesai, jadi aku pun tak menunda untuk menuntaskannya.

Televisi menayangkan tayangan horror sewaktu aku mematikan laptop. Pantas saja, sudah lewat jam 12 malam. Secepat kilat aku menyahut remote lalu mematikan televisu. Seperti biasa, setelah melihat tayangan tentang hantu walau sekilas saja, wujud makhluk halus yang tertawa-tawa mendadak hinggap di pikiranku. Aku tidak mau membayangkannya karena mereka itu buruk rupa, tapi mereka mendesak muncul dan cukup sulit diusir sebelum pikiranku tertidur.

Pinterest

Sunyi semakin mencekam dan tak ada suara satu kendaraan pun yang lewat.
Celakanya aku mendadak ingin buang air kecil, yang pasti karena dua cangkir teh yamg tadinya kuminum. Ingin ke kamar mandi, aku tidak punya nyali. Kamar mandinya memang tak jauh dari ruang tengah, ada di sebelah kiri dapur. Walau begitu, untuk sampai aku harus melewati ruangan yang sudah dipadamkan lampunya. Ah, aku jadi malas melangkah ke sana. Aku berniat membangunkan adikku, tapi ada rasa gengsi. Pagi hari saat sarapan nanti, dia akan mengolok kakaknya sebagai penakut. Tadinya aku ingin menahannya saja. Toh beberapa jam lagi sudah subuh. Tapi rasanya benar-benar sudah tidak bisa diajak kompromi.

Ah, sebetulnya tidak perlu ribet dan tidak perlu tolah-toleh ke sekeliling ruangan. Cukup berdoa terus saja lalu melangkah ke kamar mandi. Tak akan ada apa-apa dan siapa-siapa yang mengajak ciluuuk-baaa!

Untung saja aku langsung mendapat ide cemerlang begitu membuka-buka ponsel. Aku mengecek WhatsApp teman-temanku satu persatu. Kulihat siapa di antara mereka yang masih online dan segera kudapatkan satu teman yang menjadi target. Namanya Riski, cewek yang kerjaan part timenya mengedit video pernikahan, selalu dilakukannya pada malam hari. Aku pun mengirim pesan basa-basi padanya:

“Ris, udah tidur belum?”

Langsung dibalas:
“Belum. Kenapa, Frid?”

“Ada yang pengin aku omongin, nih. Aku telpon, ya?”

“Ok.”

Aku langsung menelepon Riski. Setelah tersambung dan ia mulai berucap sepatah dua patah kata, aku segera menekan loudspeaker. Suaranya yang kecil dan nyaring itu segera meruntuhkan kesunyian. Sambil berjalan menuju kamar mandi, aku terus berbicara padanya.

“Eh Ris, kita jalan-jalan, yuk! Udah lama, tau, kita nggak jalan-jalan,”
Aku menyalakan lampu di ruangan dekat kamar mandi.

“Iya aku juga mau. Tunggu sampe pekerjaanku kelar, ya? Paling dua hari lagi,”

Aku menyalakan lampu kamar mandi lalu masuk ke dalam.
“Oke, deh! Terus kita mau jalan-jalan kemana, nih? Ada ide, nggak?

Aku meletakkan ponselku di bibir bak mandi dan cepat-cepat menuntaskan urusanku. Sementara Riski terus berbicara perihal tempat-tempat wisata yang sedang instagramable, juga kalau tidak salah, menyebut-nyebut kafe yang asyik buat kami nongky. Aku mendengarkannya saja sampai aku selesai.

Begitu keluar dari kamar mandi dan beranjak pergi ke tempat tidur, tibalah saatnya aku membuat pengakuan. Tentu bukan teman yang baik kalau aku merahasiakan taktik mengelabui yang telah kulancarkan tehadap temanku sendiri. Lagi pula jika tak ada pengakuan, cerita konyolku ini tidak akan sempurna.

“Iya deh, Ris. Aku setuju kemana aja,” kataku seolah nyambung dengan perkataannya tadi. “Eh, Ris kamu tau nggak?” tanyaku selanjutnya.

“Apa, Frid?” nadanya terdengar datar, aku jadi merasa tak sampai.

“Mmm… Sebetulnya aku telpon kamu buat nemenin aku ke kamar mandi, Ris. Tadi aku takut ke kamar mandi sendirian, terus aku telpon kamu, deh,” tawaku pun meledak begitu saja.

“Iiiiih, Fridaaaaa!!! Nakal banget kamu Frid, sumpaaah!!” Riski kedengaran girang dan bersungut-sungut walau akhirnya tertawa juga.

“Maaf ya, Ris, ya!! Aku kepepet banget soalnya. Mana udah nggak tahan tadi itu. Ha ha ha ha..”

Tau gitu tadi aku takut-takutin kamu. Aaah sumpah nyebelin banget malem-malem dikerjain,”

“Tapi thanks banget, lho, Ris. Aku udah lega sekarang. Janji, deh, nggak akan ngerjain kamu lagi,”

“Terus kita nggak jadi jalan-jalan, nih?”

“Jadi, dong. Wajib jadi,”

Beberapa hari kemudian, kami memang jalan-jalan bersama ke Tamansari Watercastle.

Aku sebenarnya tidak terbiasa mengelabui orang lain demi keuntungan diri sendiri. Jika aku sedang  play tricks, pasti yang prosesnya tidak sampai mengelabui pihak-pihak lain. Hanya saja kali itu aku benar-benar dituntut untuk melakukan problem solving sesegera mungkin untuk masalah yang kelihatannya sepele itu. Aku harus menemukan cara, mengatur strategi yang tepat dan cepat berhasil saat itu juga. Lalu kutemukan Riski sebagai targetnya.

Trik itu nampaknya hanya bisa dilancarkan sekali saja, yang berarti tak bisa dijadikan inspirasi bagi orang lain. Aku pribadi, jika trik itu ingin kupraktikkan lagi di keadaan terhimpit lainnya yang sama, sudah tak akan berhasil lagi. Karena semenjak kejadian itu, Riski sudah menceritakan kegilaanku di akun-akun media sosialnya. Dia menghimbau teman-teman yang lain untuk ‘waspada’ jika mendapatkan ‘pesan berkedok penipuan’ yang sama dariku saat tengah malam. Teman-teman bukannya waspada, malah tertawa. Hahaha. Ada-ada saja.

24 thoughts on “Ide Ini Sedikit Nakal

Add yours

    1. Parnoan juga berarti 😅 hahaha.. Dulu waktu kecil sering bgt nonton horror, sampai sakit perut. Belakangan tau kalau kita dalam kondisi cemas, khawatir, takut, memang bisa bikin sakit perut 😆

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: