Curhat #1: Kesedihan Ekologis dan Semangat Berubah

Sumber: Pinterest

Aku cukup menyesal mengapa baru 3 tahun terakhir ini menyadari betapa pentingnya menjaga lingkungan dari pencemaran, menggunakan produk/peralatan ramah lingkungan, dan menggunakan reusable bag setiap kali berbelanja untuk meminimalisasi sampah plastik. Sudah banyak biota laut mati keracunan sampah yang dihasilkan manusia dipertontonkan di layar televisi, surat kabar, atau bisa dilihat langsung ke pesisir. Continue reading “Curhat #1: Kesedihan Ekologis dan Semangat Berubah”

Yang Terkenang di Waktu Hujan

Pinterest

Rintik gerimis menebar kasih di penghujung pagi
Mama bersandar di dada kursi rotan yang bersandar pada asa menjemput mentari
Detik berikutnya gerimis dikeraskan mega-mega
Mama menyibak buram jendela tepi lukisan berpigura pinus
Sekejap tirai bambu ditarik lentik bulu matanya
Satu tarikan tuang seribu ikhlas atas kehendak Tuhan Continue reading “Yang Terkenang di Waktu Hujan”

Orang-orang Desa (2)

Ketika aku kembali, aku sudah lupa bagaimana berbicara Bahasa Jawa. Terlebih lagi melafazkan  Bahasa Jawa Krama, rasanya susah sekali. Aku sudah terbiasa berbicara dengan Bahasa Indonesia dan dua bahasa asing yang dijadikan bahasa resmi asrama, padahal orang-orang di desa berkomunikasi dengan Bahasa Jawa. Jadi, aku pun bertekad perlahan-lahan membiasakan diri lagi untuk berbahasa Jawa Krama. Di desa, bersosialisasi alias ‘srawung’ dengan masyarakat sekitar sangatlah penting, dan aku tidak ingin seolah-olah terpisahkan dari mereka. Aku juga tidak ingin dicap sebagai ‘wong Jawa ilang Jawane’ atau orang Jawa yang kehilangan ke-Jawa-annya. Continue reading “Orang-orang Desa (2)”

Jogja, Buku, dan Rindu

Pagi tadi seorang teman mengirimiku pesan WhatsApp yang berisi gambar bertuliskan lima judul buku. Temanku ini bernama Hanif, cewek yang usianya setahun lebih tua dariku. Ia kembali tinggal di Lombok setelah sebelumnya menetap empat tahun di Jogja. Hanif pencinta buku, termasuk orang yang gemar membeli buku, tapi ironisnya nyaris tak pernah membeli buku di Lombok, yang mana adalah tanah kelahirannya sendiri. Jarak yang harus ditempuhnya menuju toko buku begitu jauh, dan harga buku yang terlampau tinggi (ia sedang membandingkannya dengan harga buku-buku yang dulu ia beli di Jogja) mengharuskannya menemukan ide cemerlang. Ia tidak ingin memikirkan membeli buku lewat online bookstore. Sehingga, apa yang ia kirimkan padaku pagi tadi adalah isi dari idenya itu. Continue reading “Jogja, Buku, dan Rindu”

Negligence

P_20200209_084304_1

Buku yang tersusun di lemari buku tak satupun yang bertorehkan ‘cinta’ pada sampulnya. Semestinya ada setengah lusin lebih buku-buku seperti itu di sana, di bawah dwilogi-trilogi dan kompilasi-kompilasi. Jika tidak karena suatu alasan bahwa ‘cinta’ yang kerap terlihat tapi terpenjara akan lebih mudah memuai-menyusut dan perlahan usang, aku tak akan melakukan sesuatu yang preventif. Continue reading “Negligence”