Samber Mata

Suatu petang, sebelum koronavirus datang menyerbu negeri zamrud khatulistiwa ini, aku menjemput adikku dari les taekwondo di sekolahnya. Saat itu waktu sudah hampir Maghrib, terdengar murottal Al Quran dan shalawat yang dilantunkan dari masjid-masjid. Kami pulang menelusuri jalan beraspal di tengah sawah dengan kecepatan 40 km/jam. Lintasan yang kami lalui tersebut dekat dengan pemukiman penduduk, oleh sebab itu aku tidak berani mengebut. Selain itu, sepasukan serangga samber mata sudah merajai jalan, menghambur ke siapa saja yang lewat, tak terkecuali kami. Adikku menutup kaca helmnya sehingga terdengar riuh bunyi samber mata yang menabraki kaca. Sementara aku, menyipitkan mata di sepanjang perjalanan dan merasakan cukup banyak samber mata yang sudah masuk ke helm, jilbab, dan juga masker. 

Continue reading “Samber Mata”