Q&A with Kak Ranty Seputar Zero Waste Lifestyle

Memilih Zero Waste Lifestyle

Belakangan ini, zero waste lifestyle atau gaya hidup minim sampah semakin banyak menarik perhatian society kita untuk mengadopsinya. Perubahan baik ini tentu tidak lepas dari rasa prihatin kita terhadap kualitas lingkungan yang kian menurun dengan adanya kasus sampah di TPA yang membludak, global warming, climate change, kebakaran hutan, deforestasi, dan bentuk kerusakan mengerikan lainnya. Perubahan ini juga muncul berkat peran pemerintah, komunitas, dan sosok-sosok peduli lingkungan dalam menyuarakan isu-isu lingkungan serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya zero waste. Mereka menggawangi adanya aksi dan diskusi terkait topik tersebut. Selain itu, peran bulkstore pun tidak kalah penting. Mereka menawarkan produk eco friendly sebagai solusi menekan kasus pencemaran lingkungan, sekaligus menjadi inspirasi bagi pengusaha lain untuk menerapkan green business

Hal tersebut pastinya menjadi harapan baik bagi kesehatan kita dan Ibu Bumi di tahun-tahun mendatang. Meskipun tak dapat ditutupi, kini jumlah orang dengan gaya hidup minim sampah masih sedikit dari populasi. Gaya hidup ini sendiri pun bukan tanpa cacat. Bahkan tidak sedikit dari kita masih merasa pesimis dan sangsi, bahwa mustahil bisa hidup tanpa menghasilkan sampah, terlebih penggunaan produk berplastik sekali pakai yang akrab sekali dengan keseharian hidup manusia. Kepesimisan juga muncul karena kita punya dalih bahwa ‘semua sudah terlanjur’, dan yang sudah terlanjur sepertinya memang ditakdirkan ada dalam kehidupan ini. 

Meninggalkan tantangan yang tak akan ada habisnya tersebut, upaya kita dalam menerapkan gaya hidup minim sampah harus tetap berlanjut. Gaya hidup ini telah dipercaya sebagai solusi tepat yang mampu mengubah kualitas lingkungan menjadi lebih baik. Dengan belajar menerapkannya di kehidupan kita, kita berharap bisa melihat dan merasakan energi positifnya di masa sekarang. Tapi jauh lebih penting lagi, kita berharap anak cucu kita di masa depan dapat menempati Bumi yang lebih terawat dan loh jinawi, sekaligus meneruskan tongkat estafet kita saat ini.

Q&A with Kak Ranty – “Ayo, Habiskan Manfaatnya!” – Zero Waste Lifestyle

Sekitar tiga bulan lalu, aku tidak sengaja menemukan tips meregrow sisa batang pakchoy yang diunggah di  Instagram story Sustaination. Setelah kutelusuri, konten yang direpost itu tadinya diunggah oleh akun dengan nama @astrirantini. Pemiliknya adalah sosok milenial yang dari konten-kontennya terbaca jelas punya misi dan tekad mengurangi jejak sampah di muka bumi. Aku takjub sekali. Konten-kontennya begitu kreatif, di luar bayangan alias tidak biasa, dan mudah untuk diikuti. Gaya bahasa yang ia gunakan pun santai dan tidak terkesan menjudge atau memaksa siapapun untuk mengikutinya. Melihat itu, aku jelas tidak ragu untuk mengetuk follow agar terus kebagian ilmu yang ia tebarkan. Dan dari sekian kontennya itu, tips yang mulai aku praktikkan adalah membuat selai mangga dan cocopeat secara mandiri, lalu mengolah kulit kentang menjadi keripik (kebetulan aku suka sekali masak kentang).

Ternyata, @astrirantini yang akrab dipanggil Ranty—Kak Ranty ini, orangnya sangat supel dan baik hati. Aku meninggalkan komentar di kolom storynya beberapa kali, dan ia pun menanggapinya dengan ramah. Singkat cerita, kami terlibat dalam diskusi ringan seputar konten yang ia unggah. Hingga belakangan, terpikirkan olehku untuk melakukan Q&A (Question&Answer) dengan sosok inspiratif ini. Aku berharap bisa mengenalnya dan meneladani aksinya. Dan betapa beruntungnya, tanpa kusangka Kak Ranty menyanggupi ajakanku untuk melakukan Q&A ketika keinginanku sudah terkirim menjadi kata-kata di kotak Direct Messagenya. Ia pun tidak keberatan ketika kuutarakan padanya, bahwa aku berniat membagikan hasil Q&Anya di blog pribadi.

Kami sepakat melakukan Q&A dengan santai. Topik yang kuangkat adalah seputar zero waste lifestyle ala Kak Ranty dan “Ayo, Habiskan Manfaatnya!”, sebuah ajakan Kak Ranty yang acapkali ia tulis di konten memanfaatkan bagian kulit buah/sayur agar bisa dikonsumsi lagi. Nah, berikut ini adalah isi Q&A dengan Kak Ranty tersebut.


1. Kak Ranty, sebelum mulai, boleh dong perkenalan dulu?

“Hai hai… Namaku Astri Rantini, seringnya dipanggil Ranty. Aku tinggal di Sambas, salah satu kabupaten di Kalimantan Barat, yang orang-orang suka bilang “Ekornya Kalimantan”. Aku lulusan Ilmu Pemerintahan.

2. Apa yang menggerakkan Kak Ranty untuk menerapkan gaya hidup zero waste? Adakah suatu kejadian/seseorang yang menginspirasi?

Aku Agustus 2020 ini itung-itung baru setahun belajar zero waste.

Aku memulai gaya hidup zero waste ini ketika Kalimantan sedang terjadi kebakaran hutan. Kemudian Sumatera, Hutan Amazon lalu Hutan Australia juga. Sebenarnya sudah langganan juga hutan kami dibakar. Entahlah… Makin gede rasanya aku bisa berfikir dan punya empati terhadap sekelilingku. Awalnya aku ngedumel sendiri karena semacam dipaksa menghirup asap yang bahkan abunya aja nampak beterbangan. Kalau pake baju item keliatan nempel-nempelnya! Tentu sasaran marahku adalah oknum-oknum yang buka lahan tanpa pertanggungjawaban.

Tapi aku sadar, aku nggak punya power. Akhirnya aku berhenti untuk menyalahkan orang lain. Aku memilih untuk melakukan apa yang sekiranya bisa aku lakukan, seperti mulai mengurangi sampah, mengelolanya dan melakukan hal apa saja yang dapat membuat siklus alam terus hidup. Bergerak!

3. Ketika memulai belajar gaya hidup zero waste ini, ada tantangannya nggak sih Kak? Terus gimana triknya supaya bisa tetap konsisten?

Tantangannya adalah “lupa”. Lupa bawa reusable bag, lupa bawa tumbler, lupa bawa food container. Jadi masih sering kecolongan sampah. 🙈 Waktu awal-awal belajar itu aku juga pernah seminggu turun langsung buat nyari bank sampah, karena informasi yang aku dapat nggak jelas, pun banyak masyarakat nggak tau. Ternyata keberadaan bank sampah itu memang tersembunyi, semacam masuk hutan dan ada di bangunan tunggal gitu.

Untuk cara supaya konsisten, selalu berangkat dari perasaan bahwa “Ini belum cukup, Bumi butuh lebih”. Kesadaran untuk memulai gaya hidup zero waste sudah menjadi awal dari aksiku. Walaupun, secara jumlah, teman-teman zero waste Indonesia  memang masih tergolong kelompok minoritas. Tapi ini bukan masalah.

4. Nah, sekarang tentang “Ayo, habiskan manfaatnya!” yang pengen banget aku tanyain dari kemarin. Sebetulnya, seperti apa sih Kak makna atau pesan yang terkandung dalam ajakan itu?

“Ayo, habiskan manfaatnya!” itu untuk mengajak teman-teman menekan angka sampah organik yang biasanya langsung kita buang ke tong kompos. Walaupun sebenarnya ngompos itu udah solusi yang bagus banget, tapi kita nggak pengen buru-buru menyimpulkan bahwa sesuatu itu adalah sampah, toh ternyata masih bisa dikonsumsi dan banyak kandungan nutrisinya.

Jadi, ini nggak hanya bisa diikuti oleh teman-teman yang sudah mulai belajar zero waste, tapi juga oleh teman-teman yang belum memulai/belum punya kompos. Dengan mengolah dan mengkonsumsi kulit buah/sayur yang kita kira tadinya sampah, sebenarnya mereka sudah ikut berpartisipasi menekan angka sampah yang terbuang lho…

Terus untuk pengolahannya sendiri nih. Sebelum memanfaatkan kulit buah dan sayur itu, aku harus search dulu jurnal-jurnalnya, terus aku diskusikan sama orang-orang yang ahli pada bidangnya. Misalnya untuk beberapa kulit yang ada getah, kira-kira aman nggak kalau pencuciannya pake ACV (Apple Cider Vinegar), ada pengaruhnya nggak? Kandungannya tabrakan nggak? Lalu bagian-bagian mana aja yang nggak bisa dikonsumsi? Kemudian aku cek juga apa manfaat kandungan nutrisi si kulit itu untuk tubuh kita.

Cek ricek ini penting banget supaya kita nggak mengolah kulit buah/sayur secara sembarangan. Kita juga jadi tau mana kulit buah/sayur yang masih aman dikonsumsi dan mana yang enggak.

5. Bisa nggak “habiskan manfaatnya” ini kita terapkan ke yang anorganik?

Tentu bisa. Kayak kipas angin di rumah aku yang rusak. Di benerin, membaik dan bisa dimanfaatkan lagi.
Lalu konslet lagi, kami coba ganti alat bagian dalam (dinamo) serta beberapa kabel, ternyata masih bisa digunakan.
Lalu terakhir, dibenerin malah bunyi dan panas. Meminimalisasi hal yang nggak diinginkan karena ini berhubungan dengan aliran listrik, kami memutuskan untuk berhenti memaksanya berfungsi seperti dulu.
Kami mengistirahatkan kipas angin ini dan berencana untuk diserahkan ke tukang rongsokan yang biasa lewat depan rumah.

6. Manfaat apa yang sudah Kak Ranty rasakan semenjak menerapkan gaya hidup zero waste?

Aku jadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, nggak hanya tentang sampah tapi semua hal dalam keseharian, dari mulai bangun tidur sampe tidur lagi. Empatiku terhadap lingkungan naik 1 tingkat dari kemaren. Aku juga merasa hidup sederhana ternyata bikin nyaman dan tenang, berasa enteng karena aku dulu konsumtif banget.

7. Bagaimana pendekatan Kak Ranty ke keluarga (mungkin juga
ke lingkungan sekitar) supaya mereka tergerak mengikuti aksi Kakak?

Dulu pendapat ku sering dipatahkan. Dibilang nggak mungkin, dibilang aneh karena bawa mangkok dan toples sendiri kalau jajan. Lalu aku tunjukin video ke mereka, aku tunjukin contoh-contoh daerah yang sudah menerapkan peraturan larangan kantong plastik, terus kuceritakan bahwa ada juga loh orang-orang di kota lain yang serupa dengan aksiku.

Untuk ngelatih Mamak aku supaya belanja bawa reusable bag aja kudu diakalin. Malam-malam aku lipetin reusable bag, trus kumasukin ke dompet belanja Mamak. Karena namanya orang tua ya, kalau ditanyain kenapa nggak bawa reusable bag jawabannya pasti “Lupa, tadi buru-buru”. Tapi aku nggak pernah marah kok, aku selalu tanya dulu alasan mereka nggak bawa reusable bag itu KENAPA, biar aku bisa bantu mempermudahnya. Karena prinsipku, hal itu mestinya DIPERKENALKAN bukannya DIPAKSAKAN. Setiap kali mereka sadar bawa reusable bag dan wadah sendiri, selalu kuberi apresiasi. Tapi sekarang Mamak udah sadar sendiri kok, nggak perlu diakalin 😂

Apalagi semenjak kukenalkan sama hasil kebun. Keluarga yang awalnya ikut-ikutan, sekarang kalau aku baru buka mata bangun tidur, orang tuaku udah krasak-krusuk di samping main-main tanah 🤣 Dan sekarang mereka udah mau ngompos juga gara-gara berkebun.

Sesulit-sulitnya mengubah kebiasaan sendiri, memang lebih sulit ngubah kebiasaan orang lain. Tapi bisa kok, nanti lama-lama kita lepas tangan.

8. Menurut Kak Ranty, apa tips memulai zero waste lifestyle bagi pemula? Kadang ada nih yang mau mulai tapi punya alasan nggak punya fasilitas yang bisa mendukung dia. Misalnya mau beralih pakai sabun ramah lingkungan, tapi sulit didapat karena jarang ada di toko-toko biasa. Ada juga yang beralasan karena produk ramah lingkungan harganya lebih mahal. Sampai ada juga yang udah niat tapi nggak mulai-mulai.

Tipsnya jangan kejauhan dulu untuk menjangkau hal-hal yang mengharuskan kita ngeluarin uang seperti membeli soap bar, shampoo bar, silicon cup, stainless straw dan semacamnya. Mulai aja dari hal yang paling mudah, murah, dan ringan. Contohnya, bawa reusable bag dan wadah sendiri kalau jajan. Ini basic banget soalnya. Kalau udah terbiasa, kemudian beralih ke ngompos. Ngompos ini sekaligus melatih kita menggeser kebiasaan buang sampah dapur dalam kresek. Dua hal ini kita dahulukan mengingat jumlah sampah di TPA itu sebagian besar adalah plastik dan sampah organik (dapur).

Kalau untuk mereka yang masih beralasan daerahnya nggak ada bulkstore, menurutku prinsip-prinsip zero waste nggak akan menyiksa dan memaksa kita kok. Ada toleransi bagi daerah-daerah yang belum punya bulkstore, seperti provinsiku. Yang penting kita bisa bijak dan bertanggung jawab aja sama sampah kita sendiri.

Kalau harga eco friendly product yang mahal, sebetulnya ini investasi jangka panjang, ya. Tapi coba habiskan dulu manfaat barang-barang yang udah ada di rumah. Pakai yang ada dulu aja.

At least, mulai saja deh. Kadang yang ngeribetin itu datangnya dari otak kita sendiri 🤣 Sering-sering aja buka story atau postingan tentang zero waste. Dulu aku juga terdorongnya karena nggak sengaja “sering melihat” dan akhirnya “sering membaca”. Kemudian paham, lalu praktik, deh.


Well, guys. Dari isi Q&A tersebut, aku berharap penjelasan Kak Ranty dapat menginspirasi dan memantapkan jalanku-jalanmu untuk belajar menerapkan gaya hidup yang minim sampah, ya.

Berdasarkan penjelasannya juga, ada beberapa poin yang menarik untuk diingat. Pertama, kita perlu berhenti menyalahkan oknum-oknum yang menjadi dalang kerusakan lingkungan, kita mulai saja aksi kita untuk mencipta perubahan yang lebih baik. Kedua, berkaitan dengan sisa (bekas) produk/makanan yang kita konsumsi, kita jangan cepat menjudgenya sebagai sampah, sebisa mungkin kita habiskan dulu manfaatnya. Ketiga, kita memang tidak bisa menghilangkan sampah secara total, tapi kita bisa menguranginya dan bijak dalam mengelolanya. Dan terakhir, jangan kita jadikan zero waste ini sebagai beban dan paksaan, tapi sebagai proses belajar dan ikhtiar.

Akhirnya, sebagai penutup tulisan ini, aku ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Kak Ranty, karena ia telah meluangkan waktunya untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan bersamaku—bersama kita semua. Thank you so much, Kak Ranty! Dan secara pribadi, aku juga merekomendasikan konten Instagramnya sebagai referensi teman-teman mendapatkan tips kreatif seputar zero waste lifestyle. Kita sama-sama belajar, ya. Klik link di sini untuk melihat profil dan mengikuti.

If you want to change your life, change your environment.

17 thoughts on “Q&A with Kak Ranty Seputar Zero Waste Lifestyle

Add yours

  1. Agak melenceng mungkin. Kalau saya di rumah sebagai bentuk pengelolaan sampah, menyediakan 3 tempat sampah yaitu plastik, kertas dan logam. Dan saat penuh, kalo mang-mang lewat ditimbang deh. Lumayan buat beli kopi 😁
    @orangkecilstyle

    Liked by 2 people

    1. itu sudah bagus kok kak.. saya dan keluarga juga dulu begitu. tapi karena di kabupaten kebetulan ada bank sampah dan jaraknya cukup dekat dari rumah, kami setorkan barang2 bekas itu ke sana. hehehe.. nice kakak 😁👏

      Liked by 1 person

  2. Zero waste lifestyle jadi resolusi tahunan saya, tapi belum kunjung terealisasi hingga sekarang 😀
    Btw, ini sangat inspiratif. Tulisan ini semakin mendorong saya untuk merealisasikannya. Semoga segera.

    Liked by 1 person

  3. Sangat menginspirasi! Aku langsung mengunjungi akun instagram untuk menjadi followernya haha~

    Semoga tulisan ini bisa menghadirkan kesadaran di hati masyarakat yang masih enggan untuk mencintai dan merawat bumi. Nice post!

    Liked by 1 person

  4. Zero Waste Lifestyle ini mulai saya kenal dari musisi Nugie. Lewat artikel ini, saya jadi lebih paham lagi. Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin.

    Terima kasih untuk postingannya!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: