Jogja, Buku, dan Rindu

Pagi tadi seorang teman mengirimiku pesan WhatsApp yang berisi gambar bertuliskan lima judul buku. Temanku ini bernama Hanif, cewek yang usianya setahun lebih tua dariku. Ia kembali tinggal di Lombok setelah sebelumnya menetap empat tahun di Jogja. Hanif pencinta buku, termasuk orang yang gemar membeli buku, tapi ironisnya nyaris tak pernah membeli buku di Lombok, yang mana adalah tanah kelahirannya sendiri. Jarak yang harus ditempuhnya menuju toko buku begitu jauh, dan harga buku yang terlampau tinggi (ia sedang membandingkannya dengan harga buku-buku yang dulu ia beli di Jogja) mengharuskannya menemukan ide cemerlang. Ia tidak ingin memikirkan membeli buku lewat online bookstore. Sehingga, apa yang ia kirimkan padaku pagi tadi adalah isi dari idenya itu. Continue reading “Jogja, Buku, dan Rindu”

Negligence

P_20200209_084304_1

Buku yang tersusun di lemari buku tak satupun yang bertorehkan ‘cinta’ pada sampulnya. Semestinya ada setengah lusin lebih buku-buku seperti itu di sana, di bawah dwilogi-trilogi dan kompilasi-kompilasi. Jika tidak karena suatu alasan bahwa ‘cinta’ yang kerap terlihat tapi terpenjara akan lebih mudah memuai-menyusut dan perlahan usang, aku tak akan melakukan sesuatu yang preventif. Continue reading “Negligence”

Rasa yang Tertinggal di Balik Buku yang Kau Pesan

Pinterest

/1/
Minggu pagi bahagia. Saking bahagianya aku mengunyah nasi goreng sosisku sambil tersenyum-senyum sendiri. Kemarin siang aku baru saja memperoleh honor menulis yang terbilang lumayan besar jumlahnya. Dan malamnya, aku sudah menganggarkan sepertiganya untuk memenuhi hasratku; membeli buku. Semalaman di tempat tidur, aku memilih buku-buku bagus di sebuah online bookstore di Instagram yang berdomisili di daerah Depok Sleman, Jogja. Nama akunnya “Rasa Sastra”, keren juga. Kelihatannya terpercaya dengan jumlah followers melebihi 12K dan testimoni-testimoni customer yang ditampilkan di highlight. Continue reading “Rasa yang Tertinggal di Balik Buku yang Kau Pesan”

Jajan Buku Tahun 2019

Hampir di penghujung tahun 2019. Kulihat banyak bibliomania dan pembaca yang biasa-biasa saja mulai menghitung berapa banyak buku yang mereka lahap tahun ini. Kemudian dengan bangga mengunggah gambarnya di media sosial, beserta caption yang menyatakan tercapainya target mereka. Ada yang tercapai, tidak tercapai, dan tidak pernah memikirkan pencapaian karena memang tidak membuat target. Ada yang jelas-jelas sudah menuntaskan berpuluh-puluh buku, masih juga belum puas dengan pencapaian itu. Dengan rendah hati dan agak kecewa mengatakan kalau yang dibacanya masih tergolong sedikit. Lalu ada yang menanggapinya sinis atau penuh pujian. Menarik sekali. Sementara aku yang membacanya hanya bisa tersenyum tanpa ingin meninggalkan komentar ataupun sekadar thumbs up emoji. Menuliskan apa yang kugagas dan kurasakan di halaman blog ini menurutku jauh lebih memuaskan. Continue reading “Jajan Buku Tahun 2019”

Harun Yahya? Kutemukan Jawabannya di Buku Harun Yahya Undercover

Aku mulai familiar dengan nama Harun Yahya semenjak duduk di kelas dua SMP, tepatnya tahun 2011. Waktu itu guru Pendidikan Agama Islam sering mengajak kami untuk belajar di teras musholla. Usai materi, kami pun diperbolehkan untuk menonton video pembelajaran tentang agama Islam dari VCD-VCD yang tak terhitung jumlahnya. Continue reading “Harun Yahya? Kutemukan Jawabannya di Buku Harun Yahya Undercover”