Srawung

Menjadi bagian dari masyarakat pedesaan Jawa bukanlah hal yang memalukan bagi saya. Mungkin saya pernah sakit hati ketika dibilang ‘ndeso’ atau ‘kampungan’, namun itu dulu saat pemahaman saya tentang pedesaan masih sangat dangkal. Lain halnya dengan sekarang. Bahkan kini saya pun merasa bahwa orang-orang yang pernah bilang demikian pada saya atau orang desa lainnya telah berubah pikiran. Desa pada masa sekarang telah menjadi tempat yang menyenangkan bagi mereka berekreasi dan menimba ilmu tentang kearifan lokal. Jangankan mereka, saya sebagai anak desa pun senang ketika melakukannya di desa lain.

Sejak kecil, saya dididik dalam suasana keluarga Jawa yang kental, diajari kecapakan yang orang desa wariskan, berikut tata cara srawung (bergaul) dan subasita (tata krama/sopan santun) dari segi bahasa/lisan dan perilaku. Soal menuntut ilmu, keluarga saya tidak pernah mengekang atau menghalang-halangi. Mereka bisa dikatakan modern tapi tidak meninggalkan sisi konservatifnya, cukup open minded, mengerti kesetaraan gender, dan menjunjung tinggi peribahasa jer basuki mawa beya (setiap keinginan/cita-cita itu membutuhkan biaya).

UNSPLASH
Continue reading “Srawung”