Curhat #1: Kesedihan Ekologis dan Semangat Berubah

Sumber: Pinterest

Aku cukup menyesal mengapa baru 3 tahun terakhir ini menyadari betapa pentingnya menjaga lingkungan dari pencemaran, menggunakan produk/peralatan ramah lingkungan, dan menggunakan reusable bag setiap kali berbelanja untuk meminimalisasi sampah plastik. Sudah banyak biota laut mati keracunan sampah yang dihasilkan manusia dipertontonkan di layar televisi, surat kabar, atau bisa dilihat langsung ke pesisir.

Tempat tinggalku yang tak jauh dari pantai pun membuatku ngeri membayangkan hal-hal buruk terjadi di masa mendatang. Bagaimana jika suatu saat nanti satu persatu biota laut mati terdampar di Pantai Samas yang diakibatkan oleh keracunan sampah? Aku akan menjadi saksi atas kejadian memilukan itu dan tidak berdaya untuk menghentikannya. Perasaan bersalah akan terus menjalari, meski aku tidak pernah membuang sampah ke sungai yang menjurus ke laut. Stop! Kejadian ini tak akan menjadi kenyataan!

Dan kini dampak polusi/kerusakan yang paling kurasakan adalah kondisi tanah di sekitar rumahku yang semakin menurun kesuburannya. Tanah pedesaan. Tapi beberapa jenis tanaman tak dapat lagi tumbuh subur, berbunga, bahkan berbuah. Akupun menduga bahwa hewan-hewan penyubur tanah banyak yang keracunan mikroplastik akibat proses pembakaran tidak sempurna atau mungkin ada batre bekas yang terkubur dalam tanah.

Itu mengingatkanku pada kehidupan 15 tahun silam, di mana kami tidak menghiraukan bahwa sampah yang kami timbun tidak kami pilah dan pilih terlebih dahulu. Kami tahu prinsip 3R (Reduce, Recycle, Reuse) tapi sama sekali belum bisa menerapkannya. Kakek memasukkan sampah logam bekas, sampah plastik, dan daun kering di dalam satu lubang yang sama. Saat musim penghujan, sampah akan ditimbun. Sementara saat musim kemarau, sampah akan dibakar. Lengkap sudah. Akibatnya sekarang kami memetik hasil dari benih sampah yang dulu kami tanam, sekaligus merasakan kesedihan dan kehilangan ekologis. Barangkali dulu kami tidak menghiraukan dampak akhirnya karena mengira alam bisa memperbarui dirinya sendiri. Kami juga mengira alam pedesaan akan tetap asri dimana ukuran daun jati muda akan selamanya berukuran lebar. Benih apapun yang disebar di tanah terbuka akan selamanya memberikan buah terbaiknya. Begitu pula dengan belalang dan kupu-kupu, akan selamanya terbang mengitari kebun.

Atas semua yang terjadi belakangan, bisa dibilang kami meratapinya. Bumi semakin panas, masalah kerusakan lingkungan kian merebak di berbagai daerah menyisakan kekhawatiran bahwa cepat atau lambat, alam desa juga akan mengalami hal yang sama. Sepuluh tahun mendatang mungkin manusia semakin kerdil, pepohonan semakin kerdil, tapi kita tidak menyadarinya karena bumi sendiri semakin kerdilβ€”menyusut. Yaah.. aku hanya menuangkan apa yang sedang berseliweran di benakku.

Yang terpenting akuβ€”kita semua harus semangat bersama-sama untuk mengobati luka yang diderita lingkungan. Mungkin ia tidak bisa sembuh total, tapi paling tidak kita bisa meredakan nyerinya. Aku sendiri memang tidak cukup berpengaruh dalam hal penyembuhan lingkungan. Bahkan di sini aku merasa sendirian dan terpencil. Aku tidak pernah bisa sebanding dengan aktivis lingkungan Greta Thurnberg yang menyuarakan save the earth ke seluruh penjuru dunia atau Bu Susi teladanku yang begitu care dengan laut Indonesia. Namun keduanya telah banyak menginspirasiku untuk bergerak. Aku hanya berpikir aku mau dan mampu memulai perubahan dari diriku, lalu keluargaku dan orang-orang terdekat.

Ya Tuhan! Berat-berat gemas rasanya menuliskan pos kali ini! Semoga kelak anak-anakku akan menemukan dan membaca curhatan (calon) Mamanya ini.

Beberapa yang sudah mulai kulakukan tidak menunjukkan hasil yang kentara untuk lingkungan. Belum. Hanya belum. Aku masih meniti proses dan perlahan-lahan mencapai progress. Sebagai catatan, yang aku lakukan kebanyakan kupelajari secara otodidak, bersumber dari artikel-artikel yang tersebar di internet. Oke, apa sajanya langsung pakai nomor satu dua saja biar cepat.

1. Berusaha membuat tanah tetap subur

Ini adalah kelanjutan dari masalah yang aku singgung sebelumnya. Akhirnya pekerjaan yang bisa kami (aku dan keluarga) lakukan sekarang adalah tindakan kuratif untuk memulihkan kesuburan tanah. Sebelum dan setelah menanam, kami harus rajin-rajin menggemburkan tanah dengan sekop, atau menaburinya dengan pupuk kandang. Kami menggantikan kerja cacing tanah.

Masih ingatkah, dahulu pokok singkong atau tebu bisa tumbuh seminggu kemudian hanya dengan ditancapkan begitu saja ke tanah. Sekarang?

Sedangkan tindakan preventifnya adalah dengan bijak mengelola sampah rumah tangga. Sampah dibedakan sesuai jenisnya, kemudian saat sudah terkumpul bisa disetorkan ke tempat pengumpulan sampah di desa yang dikelola oleh anak-anak muda. Sampah yang kami setorkan dihargai sebagai zakat sampah, karena desa bekerja sama dengan Baznas yang menggagas adanya zakat sampah itu. Dan sampai saat ini pun hasilnya lumayan bisa menjadi tambahan dana untuk pembangunan desa. Lumayan juga, karena bisa mengurangi pembuangan sampah ke tanah terbuka.

Lalu apa kabar tetangga?

2. Menggunakan produk ramah lingkungan

Prosesku berbenah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, membuktikan apa yang media daring katakan tentang tantangan memulai gaya hidup zerowaste. Tak mudah bagi kita untuk menggunakan produk ramah lingkungan dalam waktu bersamaan, karena kita tidak terbiasa menggunakannya. Semuanya tidak bisa instan, butuh penyesuaian. Jadi akupun menchallenge diriku untuk step by step memakai produk ramah lingkungan. Dan kuakui, jika keberhasilan penuh nilainya 100%, maka nilaiku baru 0,05% saja. Artinya, masih banyak yang belum aku pelajari dan aku lakukan.

Terdiri dari apa saja 0,05 % itu? Natural soap, natural shampoo merk Lokananta Gilangharjo (berbahan aloevera/almond/kemiri yang diperam), bamboo straws ukuran kecil dan besar (awalnya aku memakai stainless, tapi aku menggantinya setelah Mbak Ririn bilang kalau bahan stainless itu diragukan), sikat gigi bambu merk Pepsodent (tadinya aku menggunakan sikat gigi bambu produk pengusaha handmade stuff), natural lip scrub merk Kinanthi, parfum tetes/oles (bukan spray), sapu tangan (tiga bulan ini sudah tidak pakai tisu), tumbler merk Tupperware, minyak telon botol beling, dan memakai pot sabut kelapa (belum total karena harganya cukup mahal).

Kendala yang paling aku rasakan adalah saat menggunakan straw/sedotan sendiri. Aku terkadang lupa membawanya pulang setelah menggunakannya untuk minum minuman dingin di kedai. Waaah… Barang kecil itu sering sekali kelupaan apalagi kalau diajak teman nyrocos tanpa henti.

3. Menggunakan tas belanja (reusable bag) sendiri

Perubahan ini adalah yang pertama kali sekaligus yang paling sulit untuk dimulai. Keluar dari zona nyaman tenteng plastik kresek menuju Go Green butuh perjuangan. Bagiku terasa berat, dan lebih berat lagi bagi keluargaku. Butuh pendekatan dan jurus andalan. Huft. Ada-ada saja cobaan yang datang mulai dari lupa membawa tas belanja sampai kejadian-kejadian konyol yang terjadi waktu berbelanja. Beberapa kejadian itu akan aku ceritakan di bawah judul yang berbeda nantinya.

Terkadang aku masih belum puas walaupun sudah menggunakan tas belanja sendiri, karena sekarang masalahnya beralih ke apa saja yang ada di dalam tas belanja itu. Setengah sia-sia kalau yang dibeli adalah minuman teh botol, makanan ringan kemasan, atau barang-barang berbungkus plastik lainnya. Benar, sudah ada pengelolaan sampah, tapi kenapa harus selalu menambah sampah? Di sisi lain, aku masih ketergantungan memakai produk-produk kemasan yang memenuhi kebutuhan. Ah, serba salah kalau ditelusuri lebih detail.

Bahan tas belanjaku terbuat dari kain spunbond warna orens jreng dan hijau, dan dari kain perca batik. Selain tas belanja juga ada tas-tas lain yang bisa mengantongi belanjaan, contohnya totebag kanvas (sebetulnya ini adalah tas mainku tapi bisa multifungsi hahaha) dan tas ransel yang biasa kupakai saat kuliah. Masih ada lagi yang berfungsi untuk wadah belanjaan, yaitu dashboard dan jok motor. Serius. Dashboard biasanya untuk meletakkan es krim cup atau barang berukuran kecil lainnya yang jumlahnya hanya satu atau dua. Sementara jok motor bisa muat 2 Wiskas 1/2 kg atau barang berukuran sedang yang jumlahnya satu atau dua tapi tidak muat di dashboar. Bleehhh. Pokoknya begitu.

Tapi eh tapi, ada yang perlu saudara-saudara sekalian ketahui tentang siapakah sosok yang pertama kali mengenalkanku pada reusable bag. Ialah Nur Mukhlisoh Majidah yang biasa dipanggil Ukhti Nurem. Pada saat menjabat sebagai ketua mudabiroh (semacam OSIS) di pesantren tahun 2013, ia mempunyai program kerja yang mewajibkan santri mengantongi jajanannya dengan tas spunbond kecil yang dibagikannya. Tapi semenjak ia turun tahta, tak banyak santri yang meneruskan ide cerdasnya itu, termasuk aku. Haha. Hingga pada 2017-an aku baru terketuk tersadarkan untuk menggunakan reusable bag secara konsisten ke depannya. Aku berterima kasih banyak padamu Ukhti. Apa yang kau ajarkan adalah amalan yang mendatangkan pahala.

4. Makan dalam porsi sewajarnya dan jika jajan di kedai makan harus habis di tempat

Untuk alasan dan ulasannya yang lebih mengena sekaligus sudah sah mewakiliku, mending langsung baca buku Merusak Bumi dari Meja Makan karya M. Faizi atau langsung baca tulisan Teh Mulya saja. Langsung klik: Empat.

5. Memanfaatkan kembali barang-barang bekas

Sebagai contohnya adalah serpihan triplek bekas yang aku ubah menjadi hiasan dinding. Ada juga lampu bohlam bekas yang aku gunakan untuk hiasan dan pot bunga palsu. Ada kain perca dan kaos tak terpakai yang bisa kumanfaatkan untuk menambah jumlah tas belanja di rumah. Rantang bekas dan potongan kecil keramik yang bisa diubah menjadi pot bunga. Lalu ada juga koran bekas yang bisa kujadikan sampul buku catatan buatanku sendiri. Semua ini aku pelajari secara otodidak dari beragam DIY menarik di YouTube. Cobalah! Pasti suka!

Pertanyaannya sekarang, apakah beberapa usaha yang aku sebutkan di atas itu akan membawa pengaruh baik untuk sosial dan lingkungan sekitar? Jawaban untuk pertanyaan ini kuharap bisa mematahkan kekhawatiran yang aku uraikan di awal-awal paragraf. Karena jawabanku adalah YA. Tak peduli seberat dan sekuat apa aku memaksakan diri untuk mengatakannya. Karena lambat laun apa yang sudah aku usahakan akan terus konsisten berjalan dan yang belum terpenuhi atau yang harus melewati tahap uji coba terlebih dahulu sampai benar-benar nyaman diaplikasikan, pasti akan kesampaian juga nantinya. Masih banyak PR yang menunggu untuk diselesaikan. Aku belum pantas dianggap sebagai agen perubahan, namun aku banyak berharap andilku yang serba terbatas untuk memperbaiki diri dan lingkungan ini bisa membawa perubahan baik, sekecil apapun hasilnya. Mudah-mudahan saja. Great things take time!

20 thoughts on “Curhat #1: Kesedihan Ekologis dan Semangat Berubah

Add yours

  1. Yes! Great things take time ❀ Terima kasih Mbak Rahma sudah menulis ini. Apa yang mbak tuliskan adalah unek-unekku yang menumpuk dalam pikiran dan hati. Hahahaha.

    Mbak Rahma keren! πŸ‘ Aku cinta lingkunganku, tapi belum belajar otodidak seperti yang mbak lakukan. Meskipun begitu, aku berniat untuk mencari tahu kok πŸ’ͺsemoga segera terlaksana dan tidak hanya wacana. Aamiin.

    Aku pun mulai mengubah pola hidup yang lebih ramah untuk bumi. Perubahan kecil memang. Tapi, aku berusaha melakukannya secara konsisten kok. Pelan-pelan :’)

    Sejak akhir tahun kemarin, aku selalu membawa tempat minum, tempat makan, sendok, dan sedotan di dalam ransel. Kemanapun selalu kubawa. Wkwkwk. Aku berusaha membaca totebag juga. Baru hal2 itu saja memang. Semoga kelak, aku juga memakai produk ramah lingkungan seperti yang Mbak Rahma lakukan. Semoga kelak, aku juga menambah kegiatan ramah lingkungan setiap harinya. Doakan, ya!

    Semangat ya kita, Mbak Rahma. Usaha kecil ini memang tidak memberi hasil saat ini juga. Tapi, Insya Allah dampak positifnya akan dirasakan oleh anak cucu kita πŸ₯ΊπŸ₯°

    Liked by 1 person

    1. Thanks kak. Senang jika bisa mewakili.. hehehe.. padahal ini masih bagian pertamanya lho, kak. yg lainnya masih menumpuk di pikirannya 🀭

      Wow yang mbak mulai lakukan bisa menjadi ancang-ancang atau pondasi untuk kiat yg selanjutnya, kak. Aku pikir jika kita udah menerapkan langkah yang pertama, itu bisa membuat kita konsisten ke depannya. Soalnya apa yg kita biasakan sudah tertanam. Semangat, kak! πŸ‘

      Hehe aku masih dalam tahap belajar juga kok kak. Insya Allah, kak, Aamiin!!

      Liked by 1 person

      1. Wah, aku tunggu bagian lainnya yang masih menumpuk dipikiran Kak Frida, ya! ☺

        Iya, Kak. Sudah menerapkan langkah pertama saja itu sudah baik. Semoga semakin konsisten ke depannya. Aamiin.

        Semangat sama2 belajar ya, Kak Frida πŸ€©πŸ‘

        Liked by 1 person

  2. Waaaa kereeen. Semangat, Frida. Yang kamu lakukan sangat baik. πŸ‘πŸ‘ Dan semangatmu bisa menular lhoo. Kebaikan itu cantelannya memang sabar. Jadi ya begitu, perlu waktu. Kupikir orang bisa memilih antara menjadi pohon yang buahnya bisa dinikmati orang banyak atau menjadi cacing yang menggemburkan tanah. πŸ˜—πŸ˜—πŸ˜ƒ

    Liked by 2 people

    1. Makasih Tetehku πŸ˜—πŸ˜— hehe..doakan semoga selalu konsisten.. ya saat ini aku mungkin sedang memilih jadi cacing tanah, karena tidak ada pilihan lain. mau makan buah, harus jadi cacing tanah dulu haha..

      Liked by 1 person

  3. Wah, ini keren banget!
    Saya dukung!

    Upsss, saya juga sejak beberapa waktu lagi menerapkan gaya hidup minimalis yang juga bersamaan dengan upaya untuk lebih sadar lingkungan (plus mengurangi jejak karbon di muka bumi akibat olah saya sendiri wkwkkwwk).

    Lanjutkan, Mbak !

    Liked by 1 person

      1. Hahaha, minimalis yang saya terapkan bukan gaya hidup minimalis yang ekstrem. Dalam bahasa Indonesia, kita mengenalnya dengan hidup sederhana/bersahaja. Motivasi sebenarnya hanya untuk menyesuaikan gaya hidup dengan isi kantong sih hahaha

        Liked by 1 person

  4. Yang sedang kuresahkan juga nih akhir2 ini. 😒 Beberapa minggu lalu aku liat komik dakwah di IG, tentang sampah2 tak terurai yang kita buang dan bagaimana ia bisa mendzalimi lingkungan (bahkan binatang). Akan ironis kalau setelah kita meninggal, sampah yang lama terurai itu bisa jadi dosa jariyah karena mendzalimi lingkungan…. Jadi galau nggak sih. 😦

    Terus makin galau lagi karena hampir semua produk kebutuhan kita, dari primer sampai printilannya, itu berplastik. 😦 Kadang sebellll kenapa semuanya berplastik. Tapi juga sebel sama diri sendiri yang suka kelupaan bawa sedoran, tas, atau benda2 lain yang reusable, wkwk.

    Walau begitu, aku udah berusaha sebaik yang kubisa. Dari bawa totebag sendiri, nggak pakai sedotan plastik (kalau telanjur dikasih ya kusimpen ajaπŸ˜‚), coba bikin ecobrick (yang hambatannya bermacam2, huft), dan ngumpulin sampah bungkus minuman. Yang terakhir itu sampai diomelin ibu karena kusimpan di totebag dan udah banyakkk banget. Aku berniat bikin barang2 dari anyaman bungkus minuman tapi nggak kubuat-buat juga. πŸ˜‚

    Liked by 1 person

    1. Yap betul sekali kak. Greenpeace juga membahas menjaga/merusak lingkungan dengan sudut pandang agama, hanya saja aku lihat beberapa komentar masih mempertanyakan mengapa harus mengaitkannya dgn agama. Kita memang punya ketakutan dan kesedihan tapi kita sendiri pun tidak bisa lepas total dari konsumsi plastik itu.. hiks…

      Superb! Langkah yang bagus kak! Eh belum lama ini aku juga belajar bikin ecobrick lho kak dan besok2 kalau ada keinginan buat banyak, mungkin bisa aku kumpulkan ke banks sampah/yg menerima ecobrick itu. Kalau ngumpulin bungkus minuman itu aku juga pernah (kebanyakan bungkus good day)tapi aku jual ke yg buat tas/dompet dari bungkus kemasan. katanya kalo bungkus kemasan yg pake lapisan alumunium foil gitu nanti lebih mudah dilipat dan hasilnya pun lebih rapi 😁😁

      Like

    1. salam kenal juga kak. terima kasih banyak sudah membaca.

      saya harap demikian, kak. meskipun antara keinginan dan realisasi belum selaras sepenuhnya, saya mencoba menuliskannya karena sudah sangat gemas dengan keadaan diri sendiri dan lingkungan.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: