Orang-orang Desa (1)

Desa adalah tempat yang nyaman. Setiap sudut desa selalu menyimpan ragam kisah yang menarik untuk diceritakan. Aku tidak pernah malu mengakui diri sendiri sebagai bagian dari masyarakat desa. Aku pernah pergi meninggalkannya, tapi akhirnya aku kembali dan ingin berbuat lebih banyak lagi untuk desa.

Ngenthak Mangir di kala senja. Beberapa petani masih menyelesaikan pekerjaannya. Lalu ada yang sudah mulai berkemas. Ada yang mengemas perkakasnya, menaikkan rumput gajah ke sepedanya, menutup teremos kecil, dan ada yang sudah mulai mengayuh sepedanya meninggalkan sawah. 
Ini adalah melinjo (Gnetum gnemon), yang kita kenal sebagai bahan baku pembuatan emping melinjo. Banyak sekali pohon melinjo tumbuh di kebun luas nenek. Setiap kali buahnya memerah, nenek akan memanggil pedagang melinjo untuk memetiknya. Atau nenek sendiri yang akan memetiknya dengan menggunakan galah. 
Gotong-royong pelebaran jalan, salah satu ciri khas masyarakat paguyuban. Desa mempunyai motto saiyeg saeka praya, saiyeg saeka kapti. Dengan bersatu dan bergotong-royong, semua menjadi mudah dan tertolong. 
Desa ada sebelum Islam memasuki Nusantara. Masyarakat memiliki tradisi dari leluhurnya yang dilestarikan secara turun-temurun, bahkan terus dilestarikan ketika Islam mulai masuk dan berkembang. Di era modern ini, banyak masyarakat desa yang masih mempertahankan tradisi, dan ada pula yang sudah meninggalkannya. Salah satu tradisi yang masih lestari adalah among-among.
Biji weru. Pohonnya tinggi menjulang di halaman rumah nenek yang luas. Semasa aku kecil, biji ini menjadi perburuan kami, cucu-cucu nenek.  Kami akan berlomba-lomba mengumpulkannya, mewadahkannya ke dalam besek, lalu menggunakannya untuk membuat prakarya sederhana.
Memberi makan ayam memang identik dengan aktivitas orang desa di pagi dan sore hari. Aku pun senang melakukan aktivitas ini. Sejak kecil aku sudah diajarkan untuk baik dengan hewan, walaupun ayam sendiriβ€”kau pasti tahu, mereka itu biangnya ribut dan selalu tidak pernah merasa kenyang.
Potret masyarakat desa yang hidup berdampingan dan rukun. Lurah di desaku punya motto bagus yang perlu diterapkan oleh masyarakat, yaitu nglarisi tangga, mberkahi kanca. Memberi laris untuk tetangga dan memberi berkah untuk teman.  Masyarakat desa harus mengutamakan membeli kebutuhan sehari-harinya dari tetangga atau temannya yang memiliki usaha (warung kelontong, dll.)
Baru-baru ini, bersepeda adalah olah raga yang paling diminati oleh semua kalangan masyarakat. Lebih-lebih di desaku. Tiap Jumat sore kami beramai-ramai gowes mengelilingi wilayah kecamatan, bercanda ria di perjalanan, lalu jajan makanan tradisional di akhir perjalanan.

Tari Topeng Pengusir Hama, bagian dari ritual adat wiwitan. Kesenian ini menyimbolkan sosok raksasa yang tengah mengusir hama agar padi-padian tidak rusak, sehingga masyarakat desa bisa memanennya dan mendapatkan hasil yang melimpah. 
Panjang ilang adalah wadah menyerupai sangkar yang dibuat dari daun kelapa. Fungsinya sama seperti besek atau tenggok, yaitu untuk wadah berkat/kenduri. Masyarakat desa menggunakan ini untuk menghemat pengeluaran biaya, tapi secara tidak langsung juga telah mengurangi penggunaan plastik.
Kesenian jathilan. Diperankan oleh penari-penari yang menaiki kuda-kuda kepang. Alunan gamelan biasanya sangat rancak dan mistis, sehingga tak jarang para penari menjadi kesurupan. Ketika kesurupan, tariannya semakin dikendalikan oleh alunan gamelan, ia bisa menari sambil berteriak, memakan dupa atau bunga, atau menghambur ke arah penonton di sekelilingnya.
Purnomo adalah ketua RT di desaku sekaligus pemeran Cakil/Sengkuni dalam kesenian reog. Setiap ada pementasan reog, ia selalu memerankan tokoh licik dalam kisah Mahabharath itu. Ia selalu membuat penonton terkagum-kagum dengan tariannya yang sangat menjiwai karakter Sengkuni.

21 thoughts on “Orang-orang Desa (1)

Add yours

  1. Waaa yang merah-merah itu di tempatku namanya biji saga. Suka dipake buat peluru perang-perangan πŸ˜…. Ternyata di sana juga ada.

    Udah lama banget gak lihat jathilan sama reog. Pingin. 😍

    Liked by 1 person

      1. Betul. Sekarang mulai langka.

        Gak takut. Seru malah. Ya kalau penarinya ndadi, menjauh. 😁😁 Di tempatku yang seni tari semacam jathilan/ reog yang ada unsur mistisnya namanya badud. Pakai kostum maung.

        Liked by 1 person

      2. Kayak cosplay harimau. Kalau mulai ndadi, suka berlagak kayak maung. Mencakar-cakar tanah. πŸ˜…πŸ˜… Bayangin aja kayak di acara uji nyali yang pesertanya kerasukan. Gayanya suka kelojotan, meringis-ringis dan spt kucing galak. Pas ditanya, “Saha manΓ©h?” Trus dijawab, “Aing Ki Maung!” 😁😁😁

        Liked by 1 person

      3. Oohhh i see.. pernah lihat di TV haha.. tapi itu lebih serem ya kak.. kayak kalo di sini, namanya gedruk. pake kostum buto (raksasa), pake topeng rambut gimbal, udah gitu pemainnya gede-gede.. ah serem haha

        Liked by 1 person

      4. Banyak banget ya kesenian daerah berupa tari-tarian. Keren bisa melihat apalagi terlibat. Untuk sekarang ini lebih banyak anak-anak yang tertarik seni karena bapaknya seniman. Spt pemain kendang. Anaknya pasti jago juga. Semoga ke depannya seni daerah banyak tampil sehingga publik pada sayang. Di kampungku, Pak Golongannya juga bapak seni, dia pemain calung. πŸ˜€πŸ˜€

        Like

      5. Woww keren banget lah tu πŸ‘πŸ‘ dulu aku juga pernah main reog, tari-tarian, teater gitu kak.. tapi semenjak pakai jilbab, udah enggak lagi..hehehe.. cuma suka nonton sambil ambil fotonya aja skrg..

        Amin berharap banget. Supaya kearifan lokal terus diperhatikan. πŸ’ͺπŸ˜„

        Liked by 1 person

    1. waah.. πŸ˜„πŸ˜„ nama desa/daerah dengan babadan memang ‘nggladrah’ ya pak.. hehe.. di sini juga ada. kelurahan saya dulu juga alas, namanya wonolipuro, tapi dikemudian hari namanya berubah jadi gilangharjo..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: